Jumat, 02 Januari 2015

PENGUKURAN LONGITUDINAL FAKTOR FISIKA KIMIA KUNCI DI SEGARA ANAKAN

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI PERAIRAN
ACARA II
PENGUKURAN LONGITUDINAL FAKTOR FISIKA KIMIA KUNCI DI SEGARA ANAKAN

Disusun Oleh :
Nur Fadilatul Aen                   H1K013005
Asisten
Jamaludin


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
JURUSAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2014
I.                  PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang
Segara Anakan merupakan laguna yang terletak di Kecamatan Kawungunten Kabupaten Cilacap yang berada pada perbatasan antara Kabupaten Ciamis Jawa Barat dengan Kabupaten Cilacap Jawa Tengah . Segara Anakan merupakan suatu laguna semi tertutup yang terhalang oleh Pulau Nusakambangan dan dikelilingi oleh muara sungai dimana kondisinya secara terus menerus mengalami penurunan lingkungan (Pamungkas,2003). Kondisi pasang surut dan kadar garamnya masih mencirikan sifat-sifat laut, tetapi gelombang dan arusnya sudah teredam sehingga menjadi perairan yang tenang. Dengan kondisi yang demikian, banyak yang menyebut segara anakan sebagai lagoon atau laguna.
Estuari adalah jenis perairan yang memiliki variasi yang tinggi ditinjau dari faktor fisik, kimia, biologi, ekologi dan jenis habitat yang terbentuk di dalamnya. Oleh karena itu interaksi antara komponen fisik, kimia dan biologi yang membentuk suatu ekosistem sangat kompleks. Hal ini disebabkan karena dinamika dari estuari sangat besar, baik dalam skala waktu yang pendek karena adanya pasang surut maupun dalam skala waktu yang panjang karena adanya pergantian musim. Organisme yang mampu bertahap pada kondisi fisik dan kimia perairan dapat tetap hidup dan tinggal nyaman di habitatnya, tetapi bagiorganisme yang tidak mampu bertahan  pada ambang toleransinya akan menjadi organisme pengunjung transisi, dimana pada saat sesuai dengan batas ambangnya organisme ini akan masuk ke habitat di estuari, tetapi jika tidak maka organisme ini akan meninggalkan daerah estuari ini (Krebs,1978).
Menurut Nybakken (1992), sifat fisik-kimia perairan sangat penting dalam ekologi. Oleh karena itu selain melakukan pengamatan terhadap faktor biotik, perlu juga dilakukan pengamatan faktor abiotik perairan. Dengan mempelajari aspek saling ketergantungan antara organisme dengan faktor abiotik akan diperoleh gambaran tentang kualitas perairan. Sifat fisik estuarin yang mempunyai variasi yang besar dalam banyak parameter yang sering kali menciptakan suatu lingkungan yang sangat menekan bagi organisme. Mungkin inilah yang menyebabkan mengapa  jumlah spesies yang hidup didaerah estuarin lebih sedikit dibanding dengan di habitat laut lainnya (Petter,1999).
Faktor fisik seperti salinitas, suhu, kekeruhan, penetrasi cahaya, kedalaman, kecepatan arus dan Total Suspended Solid atau TSS.Yang pertama adalah salinitas dimana salinitas merupakan faktor dominan. Secara definitif, sutu gradient salinitas akan tampak pada suatu saat tertentu. Tetapi pola gradient bervariasi  bergantung pada musim, topografi estuaria, pasang surut dan jumlah air tawar. Tetapi ada juga faktor lain yang berperan dalam mengubah pola salinitas. Estuaria memiliki peralihan (gradien) salinitas yang  bervariasi, terutama tergantung pada permukaan air tawar dari sungai dan air laut melalui pasang surut. Variasi ini menciptakan kondisi yang menekan bagi organisme, tetapi mendukung kehidupan biota yang padat dan juga menyangkal predator dari laut yang pada umumnya tidak menyukai perairan dengan salinitas yang rendah. (Praktiko, 2006).

1.2              Tujuan
Mengetahui pola longitudinal factor fisik - kimia kunci di Segara Anakan.







II.               MATERI DAN METODE
2.1              Materi
2.1.1    Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum “Pengukuran Longituninal Faktor Fisika Kimiadi Segara Anakan” adalah : Tali, Botol Aquades dan Hand refraktometer atau Conductivity (alatpengukur salinitas)
2.1.2   Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum “Pengukuran Longituninal Faktor Fisika Kimiadi Segara Anakan” adalah : Aquades dan Air di Segara Anakan
2.2              Metode
2.2.1        Prosedur Kerja
1. Ikat tali pada botol untuk kemudian botol di jatuhkan kedalam air.
2. Air yang ada di dalam botol, dimasukan kedalam Handrefraktometer.
3. Arahkan Handrefraktometer pada arah datangnya cahaya kemudian lihat angka yang muncul.
4. Catat data yang di dapat dan Lakukan hal tersebut secara berulang setiap 15 menit sekali.

2.3              Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari jumat dan sabtu pada tanggal 7 dan 8 November 2014 di Segara Anakan.
III.           HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1              Hasil
Tabel 1. Data Salinitas pada sungai Segara Anakan
No
Waktu
Salinitas (ppt)
1
15 menit ke-1
28
2
15 menit ke-2
25
3
15 menit ke-3
25
4
15 menit ke-4
22
5
15 menit ke-5
23
6
15 menit ke-6
21
7
15 menit ke-7
22
8
15 menit ke-8
22
9
15 menit ke-9
24
10
15 menit ke-10

11
15 menit ke-11








3.2              Pembahasan
Grafik 1. Data salinitas pada sungai Segara Anakan
Pengambilan sampel data salinitas secara longitudinal yang di lakukan pada sungai Serayu bermuara di Segara Anakan untuk kemudian dilanjutkan ke Laut Cilacap.Waktu pengambilan data dilakukan setiap 15 menit dan dilakukan selama 150 menit atau setara dengan 2 jam 30 menit.
Pengambilan data salinitas pada menit pertama di peroleh salinitas sebesar 28 ppt atau tidak terjadi stratifikasi, hal ini sesuai dengan referensi forum yakni perairan intertidal pada umumnya berada pada tingkatan salinitas 28-35 ppt (Kavanaugh, 2009). Pada 15 menit kedua dan 15 menit ketiga di peroleh salinitas yang sama  yaitu sebesar 25 ppt (SVERDRUP, H. U. 2003). Nilai salinitas yang relative sama pada kedalaman  menunjukan tidak adanya pengaruh dari air laut/intrusi air laut ke sungai dan kedalaman sungai yang dangkal. Pada 15 menit keempat  salinitas sebesar 22 ppt, pada15 menit kelima  salinitas sebesar 23. Pada 15 menit keenam salinitas di peroleh sebesar 21 ppt disini salinitas semakin turun hal ini di sebabkan pengambilan sampel dilakukan pada saat musim hujan. Sebaran salinitas di estuarin dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, evaporasi, penguapan, curah hujan, dan aliran sungai (Nontji, 2008). Perubahan salinitas dipengaruhi oleh pasang surut dan musim. Ke arah darat, salinitas muara cenderung lebih rendah. Tetapi selama musim kemarau pada saat aliran air sungai berkurang, air laut dapat masuk lebih jauh ke arah darat sehingga salinitas muara meningkat. Sebaliknya pada musim hujan, air tawar mengalir dari sungai ke laut dalam jumlah yang lebih besar sehingga salinitas air di muara menurun..Pada 15 menit ke 7, 8, 9 di peroleh salinitas sebesar 22 ppt, 22 ppt, 24 ppt.
Pada pengambilan data salinitas dimenit-menit terakhir terjadi kesalahan, yakni hanya menghitung waktu sampai 135 menit, sehingga terjadi kekosongan data pada tiga data yang terakhir. Secara garis besar perbedaan salinitas yang cukup signifikan pada setiap 15 menit selain disebabkan karena adanya pencemaran perairan di sungai Segara Anakan, factor kunci dari salinitas juga cukup berpengaruh. Menurut (Armita, 2011) factor yang mempengaruhi besar kecilnya dan perubahan salinitas yang terjadi pada suatu perairan disebabkan oleh adanya penguapan, curah hujan, Air sungai, letak dan ukuran laut, arus laut, angina dan kelembapan udara yang berpengaruh di atasnya.Selanjunya Menurut  Praktiko, (2006) bahwa Secara definitif, satu gradient salinitas akan tampak pada suatu saat tertentu. Tetapi pola gradient bervariasi  bergantung pada musim, topografi estuaria, pasang surut dan jumlah air tawar. Tetapi ada juga faktor lain yang berperan dalam mengubah pola salinitas. Pasang surut merupakan salah satu kekuatan. Oleh karena itu, pada berbagai musim suatu titik tertentu diestuaria dapat mengalami salinitas yang berbeda-beda . Estuaria memiliki peralihan (gradien) salinitas yang  bervariasi, terutama tergantung pada permukaan air tawar dari sungai dan air laut melalui pasang surut. Variasi ini menciptakan kondisi yang menekan bagi organisme, tetapi mendukung kehidupan biota yang padat dan juga menyangkal predator dari laut yang pada umumnya tidak menyukai perairan dengan salinitas yang rendah.
















IV.           KESIMPULAN DAN SARAN
4.1              Kesimpulan
Rata-rata salinitas yang ada pada perairan segara anakan yakni 27 ppt atau beradadi bawah standar salinitas perairan pesisir yakni 28-35 ppt.
Faktor kunci fisika kimia yang mempengaruhi di sungai Segara Anakan adalah curah hujan, Air sungai, letak dan ukuran laut, arus laut, angin dan kelembapan udara yang berpengaruh di atasnya.
4.2              Saran
Pengambilan sampel sebaiknya dilakukan dengan hati-hati agar data yang didapatkan akurat. Dalam pengambilan data salinitas dilakukan dengan hati-hati karena mengingat alat yang digunakan cukup mahal. Perlu kerjasama yang baik antara kelompok agar kerja mengefisienkan waktu dalam pengambilan data










DAFTAR PUSTAKA

Armita, Dewi. 2011. Analisis perbandingan kualitas air di daerah budidaya rumput laut dengan daerah daerah tidak ada budidaya rumput laut di dusun malelaya, desa punaga, kecamatan mangarabombang, kabupaten takalar. Skripsi. Program Sarjana, Universitas Hasanuddin, Makassar.

Kavanaugh M.T., K. J. Nielsen, F. T. Chan, B. A. Menge, R. M. Letelier, and L. M.

Goodrich,2009. Experimental Assesment of the Effects of Shade on an Intertidalkelp: Do Phytoplankton Blooms Inhibit Growth of Open-Coast Macroalgae.Limnol. Oceanography.,54(1), 276-288.

Krebs, C.J. 1978.Ecological Methodology. New York: Harper and Row Publisher

Nybakken, J.W., 1992. Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis. P.T. Gramedia Jakarta. 36-41

Nontji, A.2007. Laut Nusantara. Jakarta : Djambatan.

Pamungkas, O. 2003. Struktur dan Komposisi Hutan Mangrove di Segara Anakan Cilacap. Laporan Penelitian. FPIK-Ilmu Kelautan Undip.

Peter, K.L. Ng. and N. Sivasothi. 1999. A Guide to The Mangrove of Singapore II (Animal Diversity). Published by Singapore Science Centre. 168 pp.

Pratikto, I. & Rochaddi, B. 2006. Ekologi perairan Delta Wulan Demak, Jawa Tengah : korelasi sebaran gastropoda dan bahan organik dasar di kawasan mangrove. Ilmu Kelautan 11(4): 76-78.

SVERDRUP, H. U. 2003. The oceans, their physics, chemistry, and general biology. Prentice-Hall, New York : 1049 pp.






Senin, 08 Desember 2014

Morfolog dan Anatomi Kepiting

Morfologi dan Anatomi Kepiting

Kepiting adalah binatang crustacea berkaki sepuluh, yang biasanya mempunyai "ekor" yang sangat pendek, atau yang perutnya sama sekali tersembunyi di bawah thorax. Hewan ini dikelompokkan ke dalam Phylum Athropoda,Sub Phylum Crustacea, Kelas Malacostraca, Ordo Decapoda, Suborder Pleocyemata dan Infraorder Brachyura. Tubuh kepiting umumnya ditutupi dengan exoskeleton (kerangka luar) yang sangat keras, dan dipersenjatai dengan sepasang capit.

Kepiting hidup di air laut, air tawar dan darat dengan ukuran yang beraneka ragam, dari pea crab, yang lebarnya hanya beberapa millimeter. Walaupun kepiting mempunyai bentuk dan ukuran yang beragam tetapi seluruhnya mempunyai kesamaan pada bentuk tubuh. Seluruh kepiting mempunyai chelipeds dan empat pasang kaki jalan. Pada bagian kaki juga dilengkapi dengan kuku dan sepasang penjepit, chelipeds terletak di depan kaki pertama dan setiap jenis kepiting memiliki struktur chelipeds yang berbeda-beda. Chelipeds dapat digunakan untuk memegang dan membawa makanan, menggali, membuka kulit kerang dan juga sebagai senjata dalam menghadapi musuh. Di samping itu, tubuh kepiting juga ditutupi dengan Carapace. Carapace merupakan kulit yang keras atau dengan istilah lain exoskeleton (kulit luar) berfungsi untuk melindungi organ dalam bagian kepala, badan dan insang. Kepiting sejati mempunyai lima pasang kaki; sepasang kaki yang pertama dimodifikasi menjadi sepasang capit dan tidak digunakan untuk bergerak. Di hampir semua jenis kepiting, kecuali beberapa saja (misalnya, Raninoida), perutnya terlipat di bawah cephalothorax. Bagian mulut kepiting ditutupi oleh maxilliped yang rata, dan bagian depan dari Carapace tidak membentuk sebuah rostrum yang panjang. Insang kepiting terbentuk dari pelat-pelat yang pipih (phyllobranchiate), mirip dengan insang udang, namun dengan struktur yang berbeda. Insang yang terdapat di dalam tubuh berfungsi untuk mengambil oksigen biasanya sulit dilihat dari luar. Insang terdiri dari struktur yang lunak terletak di bagian bawah carapace. Sedangkan mata menonjol keluar berada di bagain depan carapace.

Berdasarkan anatomi tubuh bagian dalam, mulut kepiting terbuka dan terletak pada bagian bawah tubuh. Beberapa bagian yang terdapat di sekitar mulut berfungsi dalam memegang makanan dan juga memompakan air dari mulut ke insang. Kepiting memiliki rangka luar yang keras sehingga mulutnya tidak dapat dibuka lebar. Hal ini menyebabkan kepiting lebih banyak menggunakan sapit dalam memperoleh makanan. Makanan yang diperoleh dihancurkan dengan menggunakan sapit, kemudian baru dimakan.

Kepiting  ukurannya bisa mencapai lebih dari 20 cm. Sapit pada jantan dewasa lebih panjang dari pada sapit betina. Kepiting yang bisa berenang ini terdapat hampir di seluruh perairan pantai Indonesia, terutama di daerah mangrove, di daerah tambak air payau, muara sungai, tetapi jarang ditemukan di pulau-pulau karang. Disamping morfologi sapit, kepiting jantan dan betina dapat dibedakan juga berdasarkan ukuran abdomen, dimana abdomen jantan lebih sempit dari pada abdomen betina

Kepiting  dapat diidentifikasi dengan mengamati ciri-ciri meristik dan morfometril serta pola warna dengan mengacu pada kunci identifikasi Keenan, Carpenter dan Niem (1998). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa berdasarkan warna, bentuk duri pada frontal dan jumlah duri pada karpus, teridentifkasi 3 spesies kepiting  di kawasan Mangrove Sungai Keera Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan, yaitu Scylla olivacea, Scylla serrata dan Scylla paramamosain dimana Scylla olivacea adalah jenis yang dominan, yaitu 92% dari total sampel. Terdapat perbedaan karakter meristik yang dimiliki oleh ketiga spesies kepiting  yang ditemukan di kawasan mangrove tersebut.

Sebagian besar kepiting yang hidup di mangrove memperlihatkan adaptasi morfologis saat bernafas ketika berada di darat. Ukuran insang kepiting berkorelasi dengan habitat dan aktivitas metabolik. Spesies intertidal di daerah temperate umumnya telah mereduksi luas insang dibanding dengan spesies akuatik. Gejala ini terjadi pada spesies kepiting mangrove Ocypode  dan Uca  yang mempunyai beberapa filamen insang dibanding kerabat dekatnya di spesies akuatik. Filamen insang mengeras sebagai pemelihara bentuk, orientasi  dan fungsi tubuh bila kepiting keluar dari air. Celah insang menjadi vaskular dan dapat berfungsi sebagai paru-paru. Kepiting ini memompa udara melalui udara yang tertahan di dalam celah insang yang harus diperbaharui secara teratur dengan sering masuk ke dalam air.

Bagian tubuh kepiting juga dilengkapi bulu dan rambut sebagai indera penerima. Bulu-bulu terdapat hampir di seluruh tubuh tetapi sebagian besar bergerombol pada kaki jalan. Untuk menemukan makanannya kepiting menggunakan rangsangan bahan kimia yang dihasilkan oleh organ tubuh. Antena memiliki indera penciuman yang mampu merangsang kepiting untuk mencari makan. Ketika alat pendeteksi pada kaki melakukan kontak langsung dengan makanan, chelipeds dengan cepat menjepit makanan tersebut dan langsung dimasukkan ke dalam mulut. Mulut kepiting juga memiliki alat penerima sinyal yang sangat sensitif untuk mendeteksi bahan-bahan kimia. Kepiting mengandalkan kombinasi organ perasa untuk menemukan makanan, pasangan dan menyelamatkan diri dari predator.

Kepiting memiliki sepasang mata yang terdiri dari beberapa ribu unit optik. Matanya terletak pada tangkai, dimana mata ini dapat dimasukkan ke dalam rongga pada carapace ketika dirinya terancam. Kadang-kadang kepiting dapat mendengar dan menghasilkan berbagai suara. Hal yang menarik pada berbagai spesies ketika masa kawin, sang jantan mengeluarkan suara yang keras dengan menggunaklan chelipeds-nya atau menggetarkan kaki jalannya untuk menarik perhatian sang betina. Setiap spesies memiliki suara yang khas, hal ini digunakan untuk menarik sang betina atau untuk menakut-nakuti pejantan lainnya.

Kamis, 04 Desember 2014

HARAPAN

Dahulu, Aku tidak menyadari betapa berharganya dirimu,
Karena kamu selalu berada disampingku,
Orang-orang berharga yang selalu berada disampingku,
Ketika aku lelah dan merasa sepi,
Aku lupa kepada mereka yang telah memberiku kekuatan.
Mulai sekarang, bahkan jika kamu lelah dan kehabisan energi, jangan pernah menyerah dan tetaplah tegar, pikirkan hari esok.
Entah saat kamu gagal dalam pekerjaan atau cinta,
Tidak ada yang bisa membuatmu jatuh.
Tahukah kamu, kamu tidak sendirian di dunia ini,
Jangan hanya duduk dan bersedih sepanjang waktu,
Ayo bergandengan tangan dan melihat ke langit.
Gambar dunia yang akan kita buat bersama di langit.
Itu bersinar dan sangat indah,
Ayo buat bersama sambil bergandengan tangan,
Mari berdiri bersama dan merentangkan tangan kita sejauh-jauhnya, mari bergandengan tangan dan melihat ke langit.
Gambar dunia yang akan kita buat bersama di langit.
Gambar itu sangat bersinar dan indah.
Ayo kita buat bersama-sama sambil bergandengan tangan
Dunia diselimuti oleh kegelapan,
Setiap orang yang terjatuh kedalam dunia itu,
Bahkan jika itu menghalangi keyakinan dan cinta dalam pikiran kita untuk berkembang, masih ada keberanian yang pasti sehingga kita bisa memulainya lagi.
Kita tahu kita bisa berdiri lagi,
Tidak akan ada penyebab kemarahan atau pertengkaran.
Itulah harapan yang kami impikan,
Kita bisa melihat dunia yang indah.
Ayo bergandengan tangan dan melihat ke langit.
Gambar dunia yang akan kita buat bersama di langit.
Itu bersinar dan sangat indah,
Ayo buat bersama sambil bergandengan tangan,
Aku ingin menjadi secercah harapan untuk menyinari masa depanmu yang terbuka
Angkat wajahmu dan hadapi sinar yang gemerlap
Semuanya, ayo buka matamu
Lihatlah dunia dihadapanmu
Kami telah melakukannya sambil bergandengan
Tidak ada ketakutan
Tidak ada lagi kesedihan
Mari berpesta dengan hanya memikirkan kebahagiaan.
x

One-Sample T Test and Independent Sample T Test


TUGAS   UJI T

1.      Pembudidaya memanen benih ikan mas di suatu kolam. Pembudidaya menyatakan benih yang akan dijual adalah ukuran 6 cm. Oleh karena itu, dilakukan sampling terhadap 15 benih untuk mengetahui keseragamannya. Berikut ini adalah hipotesis dan datanya.

H0 = Rerata ukuran benih sama dengan 6 cm
H1 = Rerata ukuran benih tidak sama dengan 6 cm
Sampel
Ukuran
1
5.5
2
6.1
3
5.9
4
5.3
5
5.8
6
5.7
7
5.5
8
4.9
9
5.8
10
5.9
11
4.9
12
6.8
13
6.6
14
6.2
15
5.9











UJI One-Sample T Test
Ø  Masuk ke program SPSS
Ø  Kemudian masuk ke Variable  View, Terdapat sepuluh atribut variabel yang perlu definisikan . Isi Ukuran dan Sampel  dikolom Name,Type  (Numeric),Width( 8), Desimal untuk  sampel (0) dan Desimal untuk ukuran (1),Value (None), Missing (None), Columns (8),Aligh (Center),Measure untuk sampel ( Nominal) untuk ukuran( Scale).

Ø  Masuk ke Data View,masukan data pada Variable Sampel dan Ukuran

Ø  Klik menu Analyze →  Compare MeansOne-Sample T Test
Ø  Muncul kotak dialog
Ø  Masukkan variable ukuran pada kotak Test Variable (s) dan masukkan 6 pada kotak Test Value.

Ø  Klik Option sehingga muncul kotak dialog
Ø   Isi 95 % pada condifent interval dan pilih exlude cases analysis by analysisContinue

Ø  Klik OK






Ø  Sehingga didapatkan data output One Sample T Test


Pada table One –Sample Startistik memaparkan nilai statistic variable pencapaian ukuran benih ikan sebagai berikut : jumlah sampling 15, rata-rata ukuran benih ikan 5.787, standard deviasi 0.5330 dan standard error mean 0.1376.




Hipotesis

H0 = Rerata ukuran benih sama dengan 6 cm
H1 = Rerata ukuran benih tidak sama dengan 6 cm

 Nilai t hitung (1.550) < t tab (1.761) dan nilai sig. (2-tailed) 0.143 > nilai α 0.1  maka dapat di simpulkan   H0 di terima. Jadi karena H0 diterima maka rerata benih yang  akan di jual memiliki ukuran 6 cm.





2.      Peneliti ingin membandingkan perbedaan bobot ikan nila yang diberi pellet tanpa probiotik dan pellet dengan campuran probiotik. Kemudian dilakukan sampling sebanyak 100 ekor ikan nila pada hari yang sama. Oleh karena itu, peneliti membuat suatu hipotesis. Berikut ini adalah hipotesis dan datanya.

H0 = Kedua strain memiliki rata2 berat yang sama
H1 = Kedua strain tidak memiliki rata2 berat yang sama

Interval nilai berat
Awal
Akhir
Nilai tengah
Frekuensi
Nilai tengah
Frekuensi
90 - 100
95
10
95
35
80 - 90
85
20
85
25
70 - 80
75
35
75
20
60 - 70
65
30
65
15
50 - 60
55
5
55
5
Total
100
100

Independent Sample T Test
·         Masuk ke program SPSS
·         Masuk ke Variable View,di variable view masukan variable pada kolom Name
·         ( variable, Frekuensi), masuk  data ke Data View.

 Description: c.png

·         Klik AnalyzeCompare MeansIndependent-Samples T Test
Description: d.png
·         Sehingga kotak analog muncul. Masukkan variable Nilai Tengah pada Test Variable(s) dan Variable pada kotak Grouping Variable
Description: g.png












·         Klik Define Group, masukkan nilai variable  pada group 1 dan 2

Description: h.png

·         Klik continue sehingga kembali ke kotak dialog Independent-Sample T Test
·         Klik Options pilih tingkat kepercayan 95 % dan pilih Exclude cases analysis by analysis .

Description: h.png
  • Klik Continue dan OK
  • Sehingga diperoleh data output independent sample T Test

Description: 19.png

Description: 20.png
Tabel di atas memaparkan nilai statistic laut sebagai berikut: jumlah sampling 20, rata-rata tingkat kecerdasan laki-laki 42.65, standard deviasi 22.432 dan standard error mean 2.492. sedangkan rata-rata tingkat kecerdasan perempuan sebesar 37.84, standard deviasi 23.143 dan standard error mean 2.571. dan t hitung masing-masing 1.345 dengan sig. (2-tailed) 0.181.
Hipotensi
H0 = Kedua strain memiliki rata2 berat yang sama
H1 = Kedua strain tidak memiliki rata2 berat yang sama
Pada table di atas Nilai t hit (1.345) < t tab (1.729) dan nilai sig. (2-tailed) 0.9 > 0.1  maka dapat di simpulkan H0 di terima. Sehingga bobot ikan nila yang diberi pellet tanpa probiotik dan pellet dengan campuran probiotik memiliki rata2 yang sama.